Kemensos: Sekolah Rakyat Jadi Kunci Putus Rantai Kemiskinan

- Penulis

Jumat, 22 Agustus 2025 - 11:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Antara

i

Foto : Antara

PELITANASIONAL | JAKARTA -Kementerian Sosial meyakini keberhasilan Program Sekolah Rakyat dalam mencapai target pengentasan kemiskinan ekstrem hingga nol persen pada 2026 sangat ditentukan oleh kualitas manajerial guru dan kepala sekolah. Program berbasis pendidikan bermutu itu diharapkan mampu memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo, menegaskan bahwa faktor terpenting bagi setiap guru maupun kepala sekolah adalah kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan membangun suasana belajar yang nyaman di sekolah berbasis asrama tersebut.

“Mereka mayoritas baru mengenal sistem asrama, latar belakangnya sudah kita ketahui. Kenyamanan siswa akan sangat mendukung proses belajar mengajar berjalan optimal,” ujar Agus Jabo, Kamis (21/8/2025).

Selain itu, lanjutnya, tenaga pendidik juga dituntut menjaga pola komunikasi dengan wali asrama. Hal ini penting agar guru terbiasa menghadapi beragam kondisi anak, mulai dari sakit ringan, susah tidur, hingga perilaku aktif yang membutuhkan pendekatan disiplin.

Wamensos menekankan, pendidikan di Sekolah Rakyat bukan semata soal ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan keterampilan agar anak-anak siap menghadapi dunia kerja.

Hingga Agustus 2025, tahap pertama pembangunan telah mencapai 100 titik sekolah yang beroperasi, dari total 165 titik yang ditargetkan. Sisanya, sebanyak 65 sekolah, akan mulai beroperasi pada September mendatang.

Secara keseluruhan, terdapat 16.000 siswa, 165 kepala sekolah, lebih dari 1.400 guru, serta 2.000 tenaga pendidikan yang terlibat dalam program tersebut. Jumlah tersebut diproyeksikan terus bertambah sejalan dengan arahan Presiden untuk memperluas jangkauan Sekolah Rakyat sebagai strategi memutus rantai kemiskinan.

“Berdasarkan data BPS, 64,36 persen anak dari keluarga miskin berpotensi melanjutkan kondisi orang tuanya bila tidak ada intervensi negara. Kalau bapaknya pemulung, anaknya tidak harus jadi pemulung. Inilah yang sedang kita putus dengan Sekolah Rakyat,” tegas Agus Jabo.

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel pelitanasional.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Resmi Dilantik, empat Geuchik di Kecamatan Lapang Siap Pimpin Pembangunan
Ditjen Dukcapil Kemendagri Bawa Peralatan Perekaman, Cetak Dokumen, hingga Starlink ke Aceh Utara
Genangan Meluas, Pemkab Aceh Utara Resmi Perpanjang Status Tanggap Darurat Banjir
Polda Aceh Beri Kemudahan Pengurusan STNK Hilang atau Rusak Akibat Bencana, Ini Syaratnya
Aceh Utara Diterjang Banjir Besar, 433 Ribu Jiwa Terdampak, 230 Orang Meninggal Dunia
Pulihkan Semangat Seniman Pasca-Banjir Besar, Komunitas Solo Raya Salurkan Bantuan untuk Maestro Rapai di Aceh Utara
Wakil Gubernur Aceh Faddlullah Tegaskan Penanganan Banjir Aceh Utara dan Aceh Tamiang, Penyesuaian Bantuan Rumah Rusak
Menko Polkam RI dan Pejabat Tinggi Kunjungi Kecamatan Lapang, Gampong Kula Cangkoy Pasca-Banjir Besar
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Januari 2026 - 19:52 WIB

Resmi Dilantik, empat Geuchik di Kecamatan Lapang Siap Pimpin Pembangunan

Selasa, 13 Januari 2026 - 12:27 WIB

Ditjen Dukcapil Kemendagri Bawa Peralatan Perekaman, Cetak Dokumen, hingga Starlink ke Aceh Utara

Jumat, 9 Januari 2026 - 19:57 WIB

Genangan Meluas, Pemkab Aceh Utara Resmi Perpanjang Status Tanggap Darurat Banjir

Jumat, 9 Januari 2026 - 17:49 WIB

Polda Aceh Beri Kemudahan Pengurusan STNK Hilang atau Rusak Akibat Bencana, Ini Syaratnya

Jumat, 9 Januari 2026 - 10:50 WIB

Aceh Utara Diterjang Banjir Besar, 433 Ribu Jiwa Terdampak, 230 Orang Meninggal Dunia

Berita Terbaru