PELITA NASIONAL | ACEH UTARA | 28 Agustus 2025 – Pengajian rutin bulanan kembali digelar di Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara, Kamis (28/08/2025), bertempat di balai desa setempat. Kegiatan ini mengusung tema “Pengajian sebagai bekal ilmu dan amalan serta meningkatkan kualitas diri dalam segala aspek.”
Program pengajian ini merupakan bagian dari gagasan Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, SE, MM (Ayah Wa), yang mewajibkan seluruh 27 kecamatan di Aceh Utara melaksanakan kegiatan serupa secara berkesinambungan.
Acara di Kecamatan Lapang turut dihadiri 11 geuchik beserta perangkat desa, para tuha peut, mukim, ibu-ibu PKK, serta jajaran kepala SKPK dan pimpinan dinas. Hadir pula anggota DPRK Aceh Utara Muhammad Rizal SE, Asisten I Sekdakab Aceh Utara Dr. Fauzan, S.STP, MPA, Asisten III Fauzan, S.Sos, MAP, Kepala Dinas Syariat Islam Hadaini SSos, Kepala Satpol-PP dan WH Adhariadi, Kepala Dinas Sosial PPPA Iskandar SSTP MSP, Kepala Disdukcapil Safrizal S.STP, MAP, Kepala Kesbangpol Saiful Basri, MAP, Kepala DLHK Saifullah, S.Pd, M.Pd, Plt Kadinkes Jalaluddin, serta Ir. Mirza Gunawan, ST, MAP, CPSp, CCMS selaku Kepala Bagian PBJ.
Dari unsur keamanan hadir Polsubsektor Lapang Ipda Azhari, S.Psi, Danposramil Peltu Muhammad Kelana, Kepala UPTD Puskesmas Lapang Mastuti, SKM, anggota MPU, dan Kepala KAU Lapang.
Prosesi Peusijuek dan Tausiyah
Sebelum pengajian dimulai, Bupati terlebih dahulu mengikuti prosesi adat peusijuek atau tepung tawar yang dipimpin tokoh karismatik setempat, Walid Muzakir (Walid Lapang). Usai prosesi tersebut, pengajian resmi dibuka dan Walid Muzakir tampil sebagai guru ngaji.
Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa pengajian rutin bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga sarana memperkuat silaturahmi, memperdalam wawasan spiritual, serta pedoman dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin.
“Ilmu agama harus menjadi dasar dalam setiap langkah kita, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam menjalankan tugas sebagai pelayan masyarakat,” tegas Bupati.
Sementara itu, Walid Muzakir dalam tausiyahnya mengingatkan pentingnya menjaga shalat sebagai tiang agama.
“Shalat bukan sekadar kewajiban, tapi penopang hidup seorang muslim. Bila tiang itu ditegakkan, maka agamanya kokoh, hatinya terjaga, dan hidupnya mendapat arah. Namun bila tiang itu dirobohkan, maka runtuhlah benteng iman dalam dirinya,” pesannya.
Aspirasi Masyarakat
Setelah pengajian, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Sejumlah aspirasi dan pertanyaan langsung disampaikan masyarakat kepada Bupati.
1. Kedisiplinan Aparatur Desa
Warga menanyakan apakah geuchik yang tidak melaksanakan shalat atau tuha peut yang tidak hadir dalam pengajian akan dicabut SK. Bupati menekankan pentingnya pengajian sebagai kewajiban moral dan pembinaan aparatur desa, meski pencabutan SK bukan solusi instan.
2. Infrastruktur dan Judi Online
Warga juga menyinggung kebutuhan perbaikan jalan Lapang dan pembangunan ruang rawat inap Puskesmas Lapang. Selain itu, muncul pertanyaan mengenai maraknya judi online dan ajaran sesat.
“Judi online ini diatur dalam Qanun Nomor 8 dengan ancaman 5 tahun penjara. Namun, pemblokiran situs bukan wewenang daerah, melainkan Kominfo pusat. Kita sudah tempel selebaran, berlakukan jam malam bagi anak-anak, dan Satpol-PP bersama WH siap bertindak,” jelas Bupati.
3. Status dan Gaji Tenaga Bakti
Dari kalangan perempuan muncul aspirasi agar gaji guru bakti dan tenaga kesehatan bakti ditingkatkan. Bupati mengakui persoalan ini masih menjadi tantangan besar.
“Ada lebih dari 8.000 tenaga bakti, butuh Rp73 miliar untuk membayar gaji mereka. Bukan hanya soal gaji, tapi status mereka yang harus jelas. Ada yang sudah bakti 15–20 tahun tanpa kepastian. Kita sudah usulkan ke BKN agar mereka diakui sebagai pegawai paruh waktu. Ini sedang kita perjuangkan,” tegasnya.
Bupati Rakyat
Menutup acara, Bupati kembali menegaskan keterbukaannya terhadap semua aspirasi masyarakat.
“Bupati sekarang adalah bupati rakyat. Datang, sampaikan langsung apa yang dibutuhkan. Pintu saya terbuka,” ucapnya.
Pengajian bulanan di Kecamatan Lapang ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana penguatan spiritual, tetapi juga forum musyawarah rakyat untuk menyampaikan kebutuhan nyata, sehingga pembangunan Aceh Utara bangkit dapat berjalan seimbang antara iman, ilmu, dan amal.