Aceh Utara | Pelitanasional.com– Dampak banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Utara pada akhir November 2025 lalu masih menyisakan duka mendalam bagi para petani. Hingga kini, mereka masih berjibaku menyelamatkan sisa gabah hasil panen yang sempat terendam air banjir.
Berdasarkan dokumentasi warga yang diambil pada Kamis (30/1/2026), tampak hamparan padi hasil panen pasca banjir 26 November 2025 dijemur secara manual di atas terpal plastik. Gabah yang dijemur terlihat bercampur dengan sisa jerami kering dan lumpur halus yang mengering akibat terjangan banjir.
Kualitas Gabah Menurun Drastis
Banjir yang merendam lahan persawahan tepat saat memasuki masa panen menyebabkan penurunan kualitas gabah secara signifikan. Petani mengaku menghadapi berbagai persoalan, mulai dari perubahan fisik gabah hingga risiko kerugian ekonomi.
Beberapa dampak yang dirasakan petani di antaranya warna gabah menjadi kusam dan kecokelatan akibat terendam air dalam waktu cukup lama. Selain itu, kadar air yang tinggi memicu risiko tumbuhnya jamur apabila proses pengeringan tidak dilakukan dengan optimal. Tak sedikit pula butiran padi yang menjadi hampa atau busuk, sehingga bobot dan kualitas hasil panen menyusut drastis dibandingkan kondisi normal.
Upaya Darurat Selamatkan Panen
Di tengah keterbatasan alat pengering modern (dryer), petani terpaksa mengandalkan panas matahari sebagai satu-satunya cara penyelamatan gabah. Namun, cuaca yang sering mendung di awal tahun membuat proses penjemuran berjalan lambat dan tidak maksimal.
“Ini sisa panen dari banjir bulan November kemarin. Kami jemur semampunya supaya masih bisa dikonsumsi sendiri. Kalau dijual pun, harganya pasti jauh turun,” ujar seorang petani saat ditemui di lokasi penjemuran.
Saluran Irigasi Rusak dan Tertimbun Lumpur
Tak hanya merusak hasil panen, banjir juga menyebabkan banyak saluran irigasi rusak, jebol, bahkan tertimbun lumpur tebal. Kondisi ini dikhawatirkan akan berdampak serius terhadap musim tanam berikutnya karena aliran air ke sawah tidak lagi berfungsi normal.
Para petani pun meminta perhatian serius dari pemerintah daerah dan instansi terkait agar segera melakukan normalisasi saluran irigasi, perbaikan bendungan kecil, serta pembersihan lumpur agar air kembali mengalir ke lahan pertanian.
Harapan Petani
Petani berharap pemerintah tidak hanya hadir saat bencana terjadi, tetapi juga dalam fase pemulihan. Mereka meminta bantuan benih untuk musim tanam selanjutnya, dukungan alat pengering gabah, serta percepatan rehabilitasi infrastruktur pertanian.
Banjir 26 November 2025 lalu menjadi pukulan telak bagi ketahanan pangan lokal di Aceh Utara. Saat ini, fokus utama petani adalah memastikan gabah benar-benar kering agar tidak rusak total saat disimpan di gudang atau lumbung, sembari menunggu uluran tangan pemerintah untuk memulihkan sektor pertanian yang terdampak.






