Aceh Utara | Pelitanasional.com– Pemulihan Daerah Irigasi (DI) Jambo Aye/Langkahan pascabanjir besar tidak hanya difokuskan pada pembukaan pintu air, tetapi juga dilakukan secara bertahap melalui target fungsional, rehabilitasi, hingga modernisasi jaringan irigasi. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan uji coba pengaliran air di Bendung Jambo Aye/Langkahan, Sabtu (31/1/2026).
Perwakilan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I menyampaikan bahwa pada bulan Maret 2026, langkah awal akan difokuskan untuk mengejar target fungsional pengendalian aliran air dari BJA 0 hingga BJA 5.
“Insya Allah, pada bulan Maret ini kami akan memfokuskan langkah awal untuk mengejar target fungsional, yakni pengendalian dari BJA 0 sampai dengan BJA 5. Selanjutnya, di bulan Maret pula kami akan melakukan penanganan di wilayah Panton Labu. Memang tidak seluruhnya dapat ditangani sekaligus, namun sebagian akan mulai difungsikan secara bertahap,” ujarnya.
Setelah penanganan di Panton Labu, upaya pemulihan akan dilanjutkan ke wilayah Lhok Sukon. Dari potensi sekitar 5.000 hektare, tahap awal ditargetkan sekitar 2.000 hektare dapat mulai difungsikan secara bertahap. Selama masa tanggap darurat, upaya yang dilakukan difokuskan pada memfungsionalkan infrastruktur irigasi semaksimal mungkin.
Adapun persoalan teknis seperti dimensi bangunan, kekuatan konstruksi, serta aspek struktur permanen lainnya akan ditangani pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab–rekon) yang direncanakan mulai bulan Juni 2026.
“Permasalahan teknis akan kami permanenkan pada masa rehab-rekon. Insya Allah tahapan tersebut dimulai bulan Juni,” jelasnya.
Bersamaan dengan itu, BWS Sumatera I juga merencanakan modernisasi pengelolaan irigasi DI Jambo Aye, yang merupakan salah satu daerah irigasi andalan di bawah pengelolaan BWS Sumatera I.
Untuk mendukung kelancaran tahapan rehab-rekon, pihak BWS mengharapkan dukungan dari berbagai pihak, khususnya DPRK, agar pelaksanaan rehabilitasi dan modernisasi jaringan irigasi dapat berjalan maksimal. Harapannya, dengan pengelolaan irigasi yang lebih modern, distribusi air—yang selama ini kerap terlambat menjangkau wilayah Senudun dan daerah lainnya—dapat berlangsung lebih optimal.
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa tantangan pemulihan cukup berat, mengingat BWS Sumatera I secara bersamaan juga menangani kerusakan irigasi di wilayah Sigli, Aceh Timur, dan Bireuen. Dari sejumlah lokasi terdampak, Jambo Aye dan Panton Labu menjadi titik kerusakan yang paling signifikan. Panton Labu sendiri ditargetkan mulai difungsikan pada bulan Maret, meskipun progres Jambo Aye saat ini masih lebih unggul.
Selain paparan teknis, apresiasi disampaikan kepada Setia Budi, Ketua Unit Pengelola Irigasi (UPI) Jambo Aye/Langkahan, yang dinilai aktif sejak hari-hari awal bencana.
“Sejak awal kejadian, beliau sudah berada di lapangan. Selain menangani teknis, juga terlibat langsung dalam evakuasi serta pengantaran bantuan sembako ke masyarakat, termasuk di kawasan Rumoh Rayeuk,” ungkapnya.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada PT Bim Nidya Karya serta Jarot, yang turut berperan dalam proses pemulihan meskipun tidak dapat hadir langsung pada kegiatan tersebut.
Dengan target fungsional pada bulan Maret dan rehab-rekon yang direncanakan mulai Juni, pemulihan irigasi Jambo Aye diharapkan dapat berjalan optimal dan berkelanjutan guna mendukung pertanian serta kebutuhan air masyarakat pascabanjir. (Mul)






