Oleh: Muliadi (Redaksi Pelita Nasional)
BANDA ACEH – Langkah strategis diambil oleh PT Pembangunan Aceh (Perseroda) atau PEMA dalam melakukan penyegaran manajemen pada anak perusahaannya, PT Pema Global Energi (PGE). Berdasarkan dokumen keputusan sirkuler nomor 194/PEMA/III/2026, sebuah formasi kepemimpinan baru telah ditetapkan untuk mengawal operasional migas di Blok B, wilayah yang menjadi urat nadi ekonomi masyarakat Pase.
Namun, di tengah harapan besar ini, muncul dinamika opini publik yang mencoba menggoreng isu kedekatan personal dan politik. Sebagai media yang berkomitmen pada pembangunan daerah, Pelita Nasional melihat penunjukan ini dari perspektif yang lebih dalam: Ini adalah upaya sinkronisasi kebijakan, bukan sekadar rotasi jabatan.
Sinergi Tiga Pilar: Politik, Birokrasi, dan Akar Rumput
Hadirnya Sunny Iqbal sebagai Komisaris Utama membawa dimensi strategis yang kuat. Sebagai representasi energi muda yang memiliki akses langsung ke lingkar kebijakan tertinggi di Aceh, posisi Sunny Iqbal di dewan pengawas memastikan bahwa aspirasi kedaulatan energi Aceh tetap menjadi prioritas utama di meja runding nasional.
Pendampingan dari Asnawi, S.T., M.S.M. sebagai Anggota Komisaris melengkapi kepingan teka-teki tersebut. Kapasitas Asnawi yang menjabat sebagai Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh adalah jaminan bahwa pengawasan teknis dan regulasi akan berjalan tanpa hambatan birokrasi yang berbelit. Penunjukan ini adalah langkah cerdas untuk memastikan koordinasi antara Pemerintah Aceh dan operator lapangan di Blok B berjalan satu garis komando.
Sentuhan Tgk Muhammad Nur: Menjaga Harmoni di Pase
Di jajaran operasional, penunjukan Dr. (C) Tgk. H. Muhammad Nur, M.Si. sebagai Direktur Utama adalah kunci stabilitas sosial. Sosok Tgk Muhammad Nur dikenal luas di Aceh Utara sebagai tokoh yang memiliki kemampuan komunikasi luar biasa. Rekam jejak beliau yang sering menjembatani berbagai kepentingan masyarakat lokal menjadi aset berharga bagi PGE.
Dalam industri migas, tantangan terbesar bukan hanya soal teknis pengeboran, tetapi soal bagaimana keberadaan perusahaan dirasakan manfaatnya oleh warga lingkar tambang. Tgk Muhammad Nur, dengan latar belakang kepesantrenan dan pengalaman organisasinya, diharapkan mampu membawa gaya kepemimpinan yang lebih inklusif dan mendengarkan aspirasi rakyat jelata hingga larut malam sekalipun.
Kesimpulan: Menatap Masa Depan Blok B
Masyarakat Aceh Utara kini tidak butuh narasi provokatif yang memecah belah. Yang dibutuhkan adalah pembuktian bahwa formasi “Baja” ini mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan menciptakan lapangan kerja.
Dengan dukungan penuh dari Pemerintah Aceh dan pengawasan ketat dari para profesional yang ditunjuk, PT Pema Global Energi kini berada di titik awal untuk melompat lebih tinggi. Tugas kita sebagai insan pers dan masyarakat adalah mengawal agar amanah besar ini benar-benar bermuara pada kesejahteraan rakyat Aceh. (M)






