Seragam yang Hilang, Potret Pendidikan Aceh Utara Pasca-Banjir

- Penulis

Selasa, 20 Januari 2026 - 02:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Utara | Pelitanasional.com Dua bulan telah berlalu sejak banjir bandang menghantam Kabupaten Aceh Utara pada akhir November 2025. Air bah telah lama surut, namun duka yang tertinggal masih menggenang di kehidupan anak-anak korban bencana. Bagi mereka, banjir bukan sekadar peristiwa alam.

Ia adalah awal dari kehilangan yang panjang kehilangan rumah, kehilangan rasa aman, dan kini, kehilangan hak paling mendasar pendidikan yang layak.

Senin pagi (19/1/2026), suasana sekolah yang seharusnya riuh oleh tawa dan semangat justru terasa sunyi sepi. Tidak ada seragam merah putih yang rapi, tidak ada sepatu hitam mengilap, tak pula tas sekolah yang menggantung di punggung kecil mereka.

Di sejumlah sekolah dari tenda darurat dan lokasi pengungsian, anak-anak datang dengan langkah pelan, mengenakan pakaian seadanya.

Sebagian dari mereka hanya menjinjing buku tulis yang tersisa, dibungkus plastik bekas agar tak kembali rusak. Ada yang berjalan tanpa alas kaki, menapaki tanah yang masih lembab oleh sisa lumpur.

Seragam satu-satunya telah hanyut terbawa arus sungai atau terkubur di balik puing rumah yang roboh.
Kehilangan Segalanya, Kecuali Harapan Banjir telah merenggut lebih dari sekadar harta benda.

Ia menhayutkan ruang belajar yang selama ini menjadi tempat anak-anak menggantungkan mimpi. Meja kayu tempat mereka belajar menulis telah hancur. Buku-buku pelajaran yang dirawat dengan penuh bangga kini lenyap tanpa jejak.

“Rumah kami hancur. Sekolah anak juga rusak berat. Buku-bukunya habis, dibawa air semua,” tutur seorang orang tua murid dengan suara bergetar, menahan air yang nyaris pecah.

Di balik mata polos anak-anak itu, tersimpan kebingungan yang tak mampu mereka ucapkan. Bagaimana esok harus dijalani jika untuk belajar saja mereka tak memiliki alat? Namun, di tengah keterbatasan yang menyesakkan dada, mereka tetap datang ke sekolah.

Tetap duduk rapi, mendengarkan guru dengan mata penuh harap seolah ingin mengatakan bahwa mimpi mereka belum pudar. Belajar di Tengah Luka
Kegiatan belajar-mengajar berlangsung dalam kondisi serba darurat.

Ruang kelas yang rusak memaksa anak-anak belajar berdesakan di bawah tenda. Beberapa sekolah bahkan masih bergulat dengan lumpur dan dinding retak.

Namun tak satu pun anak memilih berhenti. Mereka belajar sambil menahan trauma, sambil memeluk erat sisa semangat yang ada.
Potret ini adalah cermin luka pendidikan di Aceh Utara. Luka yang tak boleh dianggap biasa.

Anak-anak ini adalah korban bencana, namun mereka juga calon masa depan daerah kabupaten Aceh Utara ini.

Anak-anak Aceh Utara tidak hanya membutuhkan bangunan sekolah yang dibangun kembali. Mereka membutuhkan uluran tangan tas sekolah, alat tulis, sepatu, dan seraga agar mereka tak merasa berbeda, tak merasa ditinggalkan, dan tak kehilangan martabat sebagai pelajar.

Pendidikan adalah satu-satunya jembatan yang bisa membawa mereka keluar dari trauma dan kemiskinan pasca-bencana. Jika jembatan itu kita biarkan rapuh, maka masa depan mereka dan masa depan Aceh Utara juga ikut terancam.

Jangan biarkan seragam yang hilang menjadi simbol padamnya harapan dunia pendidikan. Di tengah puing dan lumpur, asa anak-anak Aceh Utara masih menyala dan tugas kitalah memastikan api kecil itu tidak kembali hanyut dan padam oleh ketidak pedulian kita.

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel pelitanasional.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jamaluddin Dorong Percepatan Pemulihan Pendidikan Pascabanjir Aceh Utara, DPR RI Tekankan Tanggung Jawab Negara
Gampong Kreung Lingka Miliki Geuchik Baru, T. Reza Ichwan Lantik Efendi Nurdin
Menghapus Luka Pasca-Bencana, Misi Kemanusiaan AOC Pulihkan Psikologis Anak-Anak Buket Padang
Pemerintah Aceh Umumkan 10 Nama Lulus Seleksi Administrasi JPT Pratama 
Pemkab Aceh Utara Buka Pelaporan Kerugian Bencana hingga 17 Januari 2026
Kementan Salurkan Bantuan 200 Mobil untuk Korban Banjir Aceh Utara dan Sumatra Fokus pada Pemulihan Pertanian dan Pendidikan
Pelayanan Kesehatan Paska Banjir di Dusun Alue Lhok, Gampong Siren Tujoh oleh BLUD Puskesmas Syamtalira Bayu
Pagar Puskesmas Syamtalira Bayu Ambruk, Jalur Nasional Terancam Abrasi
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Januari 2026 - 02:13 WIB

Seragam yang Hilang, Potret Pendidikan Aceh Utara Pasca-Banjir

Senin, 19 Januari 2026 - 20:27 WIB

Jamaluddin Dorong Percepatan Pemulihan Pendidikan Pascabanjir Aceh Utara, DPR RI Tekankan Tanggung Jawab Negara

Senin, 19 Januari 2026 - 17:12 WIB

Gampong Kreung Lingka Miliki Geuchik Baru, T. Reza Ichwan Lantik Efendi Nurdin

Minggu, 18 Januari 2026 - 21:45 WIB

Menghapus Luka Pasca-Bencana, Misi Kemanusiaan AOC Pulihkan Psikologis Anak-Anak Buket Padang

Sabtu, 17 Januari 2026 - 09:54 WIB

Pemerintah Aceh Umumkan 10 Nama Lulus Seleksi Administrasi JPT Pratama 

Berita Terbaru