Politik dan Tamu Tak Diundang

- Penulis

Jumat, 22 Agustus 2025 - 14:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam hidup, membalas budi itu mulia. Wajar saja seorang kepala daerah memberi ruang bagi tim pemenangnya yang berpeluh, berjaga, dan menahan hujatan saat pesta demokrasi berlangsung. Sesekali mereka dipersilakan duduk lebih dekat ke meja makan, itu lumrah.

Yang tak lumrah justru ketika tim yang kalah datang menuntut jatah. Ibarat pesta pernikahan, mereka masuk tanpa undangan, duduk di kursi paling depan, bahkan minta lauk tambahan. Lucunya, bukan cuma ikut makan, mereka pula yang sibuk memberi instruksi pada penyanyi orgen tunggal tentang lagu apa yang harus diputar.

Di berbagai daerah termasuk Aceh Selatan, kisah ini jadi tontonan . Ada tim yang jelas-jelas tumbang, tapi tiba-tiba mengaku paling berjasa. Dengan wajah sumringah, mereka menempel ke pemenang, merangkai kalimat manis seolah kemenangan tak mungkin terjadi tanpa mereka. Padahal, kalau mau jujur, posisi mereka lebih mirip penonton yang gagal beli tiket bioskop tapi masih ngotot menuntut kursi VIP.

Lebih jauh lagi, ada yang hobi meniupkan isu, menggemboskan opini, bahkan mengancam dari luar pagar. Seolah-olah politik adalah panggung teater di mana siapa pun boleh main, meski perannya tidak pernah ditulis dalam naskah. Yang kalah pun ingin tampil sebagai sutradara ynag lengkap dengan klaim, intrik, dan provokasi.

Ironinya, pemenang sering tergoda meladeni. Alih-alih fokus pada rakyat, energi malah habis untuk menenangkan rival yang gagal move on. Padahal rakyatlah yang seharusnya jadi tamu utama. Tapi apa daya, dalam politik kita, yang kalah justru sering lebih cerewet daripada mertua pengantin.

Akhirnya, pesta demokrasi kerap jadi panggung absurditas dimana pemenang sibuk melayani tamu tak diundang, yang kalah sok jadi pahlawan, dan rakyat tetap jadi penonton setia yang menunggu kapan giliran mereka diajak naik ke panggung.

Mungkin, untuk bisa lebih didengar, rakyat harus belajar ikut kalah. Karena di negeri ini, yang kalah justru sering dapat kursi empuk, sementara yang menang sibuk mencari alasan agar janji-janji tak dianggap sekadar basa-basi.

Penulis : Henneri SH (Pemerhati Politik Aceh Selatan, Alumni Ilmu Hukum Universitas Syiah Kuala).

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel pelitanasional.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Banjir Tinggi Lumpuhkan Akses Jalan Medan–Banda Aceh di Syamtalira Aron, Warga Terjebak Hingga Dua Hari
Banjir Masih Rendam 57 Gampong di Tanah Luas, Warga Belum Terima Bantuan Sembako
Tanggul Sungai di Lhoksukon Jebol, Warga Gampong Kreung Lt Panik Dihantui Banjir
Banjir Aceh Utara: Ribuan Warga Terendam, Pemerintah Turun Tangan Salurkan Bantuan
Banjir dan Genangan air Mengintai, Bupati H. Ismail Ajalil Keluarkan Peringatan Darurat
Aceh Utara Memeriahkan Hari Guru Nasional ke-80 dengan Doa, Lomba, Diskusi Panel, dan Insentif Guru Dayah
Polres Lhokseumawe Ungkap Kasus Penembakan, Satu Pelaku Ditangkap
KPK Ingatkan Pejabat Daerah: Main di Pengadaan Barang, Siap-Siap Masuk Penjara!
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 28 November 2025 - 18:16 WIB

Banjir Tinggi Lumpuhkan Akses Jalan Medan–Banda Aceh di Syamtalira Aron, Warga Terjebak Hingga Dua Hari

Jumat, 28 November 2025 - 18:03 WIB

Banjir Masih Rendam 57 Gampong di Tanah Luas, Warga Belum Terima Bantuan Sembako

Selasa, 25 November 2025 - 20:11 WIB

Tanggul Sungai di Lhoksukon Jebol, Warga Gampong Kreung Lt Panik Dihantui Banjir

Minggu, 23 November 2025 - 19:30 WIB

Banjir Aceh Utara: Ribuan Warga Terendam, Pemerintah Turun Tangan Salurkan Bantuan

Sabtu, 22 November 2025 - 12:51 WIB

Banjir dan Genangan air Mengintai, Bupati H. Ismail Ajalil Keluarkan Peringatan Darurat

Berita Terbaru