Aceh Utara | Pelitanasional.com – Di tengah masa transisi pemulihan pasca-banjir besar yang melumpuhkan sebagian besar wilayah Kabupaten Aceh Utara, secercah solidaritas muncul bagi para penjaga budaya. Tim Relawan Dewan Kesenian Aceh (DKA) menyalurkan bantuan khusus bagi para seniman terdampak, salah satunya kepada maestro alat musik tradisional di Kecamatan Lapang, Kamis (8/1/2026).
Bantuan kemanusiaan hasil kolaborasi Seniman Solo Raya dan Seniman Aceh di Solo Raya tersebut diserahkan langsung kepada Ibrahim, pimpinan grup kesenian Rapai sekaligus pemilik 10 unit Rapai Uroeh (Rapai Besar) di Gampong Merbo Jurong, Kecamatan Lapang.
Banjir besar yang melanda Aceh sejak akhir tahun lalu hingga awal Januari 2026 ini tidak hanya merusak ribuan rumah warga, tetapi juga memukul ekosistem kesenian. Berdasarkan data DKA, ratusan alat musik tradisional rusak dan hilang tersapu arus, termasuk instrumen ikonik seperti Rapai.
Program bantuan bertajuk “Dengan Seni Kami Berbagi” yang dikoordinasikan oleh Mas Turah ini hadir untuk memberikan dukungan moril dan materil bagi para pekerja seni yang kerap luput dari perhatian selama masa darurat bencana.
“Saat masyarakat fokus pada pembangunan hunian tetap, kita tidak boleh lupa pada para penjaga jiwa bangsa, yaitu para seniman. Bantuan ini adalah wujud persaudaraan dari rekan-rekan seniman di Solo untuk memastikan Bapak Ibrahim dan seniman lainnya di Aceh Utara dapat bangkit kembali,” ujar perwakilan relawan DKA.
Bapak Ibrahim, yang dikenal sebagai salah satu pelestari Rapai Uroeh instrumen perkusi raksasa khas Aceh merupakan tokoh sentral dalam kehidupan sosial dan budaya di Kecamatan Lapang. Penyaluran bantuan ini dilakukan tepat saat pemerintah setempat mulai membangun hunian tetap bagi warga terdampak di wilayah tersebut.
Bantuan ini diharapkan dapat membantu kebutuhan mendesak keluarga Ibrahim serta memotivasi para seniman lokal untuk kembali menghidupkan sanggar-sanggar seni yang sempat terendam lumpur banjir.
Kehadiran solidaritas lintas wilayah ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong antar-seniman tetap kokoh, meski di tengah ujian bencana yang berat bagi Provinsi Aceh.






