Aceh Utara — Banjir besar yang melanda Aceh Utara sejak beberapa hari terakhir terus meluas dan menimbulkan dampak kemanusiaan yang sangat besar. Berdasarkan resume resmi per Sabtu, 29 November 2025 pukul 12.35 WIB, banjir telah merendam 24 kecamatan dari total 852 desa, dengan 35 titik lokasi pengungsian tersebar di seluruh wilayah.
Sebanyak 23.522 KK atau 56.464 jiwa tercatat terdampak langsung banjir. Sementara itu, jumlah warga yang terpaksa mengungsi mencapai 17.769 KK atau 57.545 jiwa.
Kelompok rentan seperti ibu hamil (64 orang), balita (490 orang), lansia (526 orang), dan penyandang disabilitas (12 orang) turut masuk dalam daftar korban terdampak. Pemerintah daerah juga melaporkan adanya 41 warga yang meninggal dunia akibat banjir ini.
Infrastruktur Rusak Parah
Kerusakan fasilitas umum dan infrastruktur terjadi di banyak lokasi. Data sementara menyebutkan:
Rumah penduduk: 27 rusak berat, 67 rusak sedang, 50 rusak ringan, Sekolah SD/SMP: 40 rusak berat, 35 sedang, 12 ringan, Fasilitas kesehatan dan perkantoran: beberapa tidak berfungsi sementara, Jalan: 1 titik rusak parah, Jembatan: 18 unit rusak atau putus, Irigasi/SDA: 23 rusak berat, 21 rusak ringan, Masjid, musholla, balai pengajian, dan dayah ikut terendam air, Di sektor pertanian dan perikanan, dampak banjir juga signifikan. Sebanyak 712 hektare sawah dan 571 hektare tambak dilaporkan terendam.
Bantuan Mulai Berdatangan
Hingga 28 November 2025 pukul 15.17 WIB, sejumlah lembaga mulai menyalurkan bantuan logistik kepada warga. PT Pema Global Energi (PGE) dan unsur Forkopimda Aceh Utara menjadi pihak pertama yang tercatat mengirim bantuan ke lapangan.
Bantuan berupa bahan pangan, pakaian, perlengkapan bayi, serta kebutuhan darurat lainnya terus diupayakan untuk menjangkau seluruh titik pengungsian.
Upaya Penanganan Diperkuat
Pemerintah kabupaten bersama BPBD, TAGANA, PKH, dan TKSK terus melakukan evakuasi, pendataan, serta distribusi logistik ke wilayah terdampak. Petugas medis juga disiagakan di beberapa titik untuk menangani keluhan kesehatan para pengungsi.
Meski demikian, sejumlah kendala masih dihadapi di lapangan, antara lain akses jalan yang terputus, peralatan evakuasi terbatas, serta distribusi bantuan yang belum merata ke desa-desa terisolir.
Pemerintah Aceh Utara mengimbau masyarakat tetap waspada dan mengikuti arahan petugas di lapangan seiring potensi curah hujan yang masih tinggi.






