Anak yang Berjalan Sendiri ke Gerbang Sekolah

- Penulis

Sabtu, 11 Juli 2026 - 07:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelitanasional.com | Opini — Hari Pertama Sekolah, Tahun Ajaran 2026/2027 Pagi 07:27 wib, di depan sebuah sekolah dasar, seorang anak perempuan turun dari angkot sendirian. Tasnya baru, sepatunya masih kaku, dan pita rambutnya sedikit miring karena ia mengikatnya sendiri di depan cermin tadi pagi tidak ada yang membantunya.

Ia berjalan pelan menyusuri trotoar, melewati satu per satu ayah yang menggandeng tangan anak-anak mereka, berhenti sebentar untuk foto di depan papan nama sekolah, tertawa, lalu melambai sampai gerbang tertutup. Anak itu tidak menoleh ke arah mereka. Ia sudah belajar untuk tidak menoleh.

Di rumah, ada foto seorang laki-laki yang tersenyum di dinding kamar. Ia memanggilnya ayah, tapi ayah itu hanya ada dalam pigura. Ibunya sudah bekerja sejak subuh, mengejar upah harian yang tidak bisa ditinggalkan barang sejenak, bahkan untuk hari yang katanya “istimewa” ini.

Jadi anak itu berangkat sendiri. Ia menghafal jalan yang diajarkan neneknya, memegang erat kertas kecil bertuliskan alamat sekolah, dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis di depan teman-teman barunya.

Ketika Negara Sibuk Merayakan Kehadiran, Ia Sibuk Menyembunyikan Ketidakhadiran
Ada surat edaran yang mengatur pagi ini. Ada dispensasi jam kerja, ada kode presensi, ada slogan tentang kedekatan emosional yang katanya akan membuat anak lebih percaya diri memasuki hari pertama sekolah. Semua itu dirancang dengan niat baik  untuk anak-anak yang masih punya ayah untuk digandeng.

Tapi tidak ada satu baris pun dalam surat itu yang menyebut anak seperti dia. Tidak ada kolom untuk anak yatim. Tidak ada ruang untuk anak piatu. Tidak ada kalimat yang berkata, “kalau kau tidak punya siapa-siapa untuk menggandengmu pagi ini, kami tetap memikirkanmu.”

Ia berdiri di barisan absen, ditanya gurunya dengan nada ringan, “tadi diantar siapa, Nak?” Pertanyaan itu sederhana bagi yang bertanya. Tapi bagi anak yang harus menjawabnya di depan teman-teman barunya, pertanyaan itu adalah pisau kecil yang diasah oleh kebijakan yang tidak pernah membayangkan dirinya ada.

Ia hanya diam sebentar, lalu menjawab pelan, “diantar sendiri, Bu.” Suaranya nyaris tak terdengar, tapi cukup membuat beberapa temannya menoleh dengan tatapan yang tidak ia mengerti antara kasihan dan bingung. Ia menunduk, menatap sepatunya yang masih kaku, dan menahan sesuatu yang panas di matanya sampai bel berbunyi.

Anak-Anak yang Belajar Menjadi Kuat Terlalu Dini
Ada begitu banyak anak seperti dia di negeri ini anak yang orang tuanya direnggut oleh kematian, oleh perpisahan, oleh nasib yang tidak pernah mereka pilih.

Mereka bangun pagi, memakai seragam sendiri, mengikat tali sepatu sendiri, dan berjalan ke sekolah dengan hati yang berusaha sekuat mungkin untuk tidak retak di depan orang lain.

Mereka sudah cukup kuat menanggung kehilangan. Yang tidak seharusnya mereka tanggung adalah rasa malu tambahan karena kebijakan negara lupa menghitung keberadaan mereka.

Sungguh menyakitkan membayangkan seorang anak kecil yang harus tersenyum dan berkata “tidak apa-apa” ketika ditanya mengapa ia datang sendiri padahal di dalam dadanya, ia hanya ingin ada satu tangan besar yang mau menggandengnya, seperti anak-anak lain pagi itu.

Yang Sebenarnya Mereka Butuhkan Hanya Satu Kalimat
Beberapa daerah sudah menuliskan kalimat itu mengakui “wali” sebagai pengganti yang sah, memberi ruang bagi kakek, nenek, kakak, atau siapa pun yang merawat anak-anak ini dengan cinta yang sama besarnya.

Tapi di banyak tempat lain, kalimat itu masih belum ada. Dan selama kalimat itu tidak ada, akan selalu ada anak yang berjalan sendirian ke gerbang sekolah sambil menahan tangis yang tidak boleh terlihat.

Kebijakan yang baik seharusnya tidak hanya merayakan mereka yang beruntung punya seseorang untuk menggandeng tangannya.

Kebijakan yang baik juga harus menoleh ke belakang, mencari anak yang berjalan sendirian, dan memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang merasa dilupakan hanya karena kehilangan yang bukan salah mereka.

Karena pada akhirnya, yang paling menyentuh dari hari pertama sekolah bukanlah seragam baru atau foto di depan gerbang.

Yang paling menyentuh adalah memastikan setiap anak, siapa pun dia, tahu bahwa ada yang peduli ia sampai dengan selamat  dan tidak sendirian menanggung apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama.

Artikel ini adalah opini reflektif tentang desain kebijakan publik, disusun berdasarkan pemberitaan resmi mengenai Gerakan Ayah Mengantar Anak di berbagai daerah. Tokoh anak dalam narasi bersifat ilustratif, mewakili pengalaman umum anak yatim/piatu di Indonesia.

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel pelitanasional.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Tinjau Kesiapan Yonif TP 932/Sunan Bonang, Perkuat Pertahanan dan Ketahanan Wilayah
Presiden Prabowo Resmikan Lima Bendungan, Keureuto di Aceh Utara Resmi Beroperasi
Bupati Aceh Utara Hadiri Peresmian Bendungan Krueng Keureuto oleh Presiden Prabowo
Relawan MBG Seluruh Indonesia Gelar Aksi di Medan Merdeka Selatan, Desak BGN Bertanggung Jawab
Ketua Yayasan Tunas Kosong Delapan Jaya Abadi Audiensi ke Menpora, Bahas Pencetakan Bibit Atlet Muda
KSB PADI Aceh Hadiri Konsolidasi Nasional, Perkuat Soliditas Hadapi Pemilu 2029
Bupati Aceh Utara Lepas Pawai Ta’aruf dan Bazar Muharram Gratis Peringati 1 Muharram 1448 H
Ironi di Balik Jargon “Aceh Sejahtera”: Ketika Bocah 11 Tahun Harus Menggantikan Peran Negara
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 11 Juli 2026 - 07:27 WIB

Anak yang Berjalan Sendiri ke Gerbang Sekolah

Jumat, 10 Juli 2026 - 23:49 WIB

Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Tinjau Kesiapan Yonif TP 932/Sunan Bonang, Perkuat Pertahanan dan Ketahanan Wilayah

Jumat, 10 Juli 2026 - 23:42 WIB

Presiden Prabowo Resmikan Lima Bendungan, Keureuto di Aceh Utara Resmi Beroperasi

Jumat, 10 Juli 2026 - 19:44 WIB

Bupati Aceh Utara Hadiri Peresmian Bendungan Krueng Keureuto oleh Presiden Prabowo

Rabu, 8 Juli 2026 - 14:55 WIB

Relawan MBG Seluruh Indonesia Gelar Aksi di Medan Merdeka Selatan, Desak BGN Bertanggung Jawab

Berita Terbaru

Nasional

Anak yang Berjalan Sendiri ke Gerbang Sekolah

Sabtu, 11 Jul 2026 - 07:27 WIB