Pelitanasional.com | Opini — Hari Pertama Sekolah, Tahun Ajaran 2026/2027 Pagi 07:27 wib, di depan sebuah sekolah dasar, seorang anak perempuan turun dari angkot sendirian. Tasnya baru, sepatunya masih kaku, dan pita rambutnya sedikit miring karena ia mengikatnya sendiri di depan cermin tadi pagi tidak ada yang membantunya.
Ia berjalan pelan menyusuri trotoar, melewati satu per satu ayah yang menggandeng tangan anak-anak mereka, berhenti sebentar untuk foto di depan papan nama sekolah, tertawa, lalu melambai sampai gerbang tertutup. Anak itu tidak menoleh ke arah mereka. Ia sudah belajar untuk tidak menoleh.
Di rumah, ada foto seorang laki-laki yang tersenyum di dinding kamar. Ia memanggilnya ayah, tapi ayah itu hanya ada dalam pigura. Ibunya sudah bekerja sejak subuh, mengejar upah harian yang tidak bisa ditinggalkan barang sejenak, bahkan untuk hari yang katanya “istimewa” ini.
Jadi anak itu berangkat sendiri. Ia menghafal jalan yang diajarkan neneknya, memegang erat kertas kecil bertuliskan alamat sekolah, dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis di depan teman-teman barunya.
Ketika Negara Sibuk Merayakan Kehadiran, Ia Sibuk Menyembunyikan Ketidakhadiran
Ada surat edaran yang mengatur pagi ini. Ada dispensasi jam kerja, ada kode presensi, ada slogan tentang kedekatan emosional yang katanya akan membuat anak lebih percaya diri memasuki hari pertama sekolah. Semua itu dirancang dengan niat baik untuk anak-anak yang masih punya ayah untuk digandeng.
Tapi tidak ada satu baris pun dalam surat itu yang menyebut anak seperti dia. Tidak ada kolom untuk anak yatim. Tidak ada ruang untuk anak piatu. Tidak ada kalimat yang berkata, “kalau kau tidak punya siapa-siapa untuk menggandengmu pagi ini, kami tetap memikirkanmu.”
Ia berdiri di barisan absen, ditanya gurunya dengan nada ringan, “tadi diantar siapa, Nak?” Pertanyaan itu sederhana bagi yang bertanya. Tapi bagi anak yang harus menjawabnya di depan teman-teman barunya, pertanyaan itu adalah pisau kecil yang diasah oleh kebijakan yang tidak pernah membayangkan dirinya ada.
Ia hanya diam sebentar, lalu menjawab pelan, “diantar sendiri, Bu.” Suaranya nyaris tak terdengar, tapi cukup membuat beberapa temannya menoleh dengan tatapan yang tidak ia mengerti antara kasihan dan bingung. Ia menunduk, menatap sepatunya yang masih kaku, dan menahan sesuatu yang panas di matanya sampai bel berbunyi.
Anak-Anak yang Belajar Menjadi Kuat Terlalu Dini
Ada begitu banyak anak seperti dia di negeri ini anak yang orang tuanya direnggut oleh kematian, oleh perpisahan, oleh nasib yang tidak pernah mereka pilih.
Mereka bangun pagi, memakai seragam sendiri, mengikat tali sepatu sendiri, dan berjalan ke sekolah dengan hati yang berusaha sekuat mungkin untuk tidak retak di depan orang lain.
Mereka sudah cukup kuat menanggung kehilangan. Yang tidak seharusnya mereka tanggung adalah rasa malu tambahan karena kebijakan negara lupa menghitung keberadaan mereka.
Sungguh menyakitkan membayangkan seorang anak kecil yang harus tersenyum dan berkata “tidak apa-apa” ketika ditanya mengapa ia datang sendiri padahal di dalam dadanya, ia hanya ingin ada satu tangan besar yang mau menggandengnya, seperti anak-anak lain pagi itu.
Yang Sebenarnya Mereka Butuhkan Hanya Satu Kalimat
Beberapa daerah sudah menuliskan kalimat itu mengakui “wali” sebagai pengganti yang sah, memberi ruang bagi kakek, nenek, kakak, atau siapa pun yang merawat anak-anak ini dengan cinta yang sama besarnya.
Tapi di banyak tempat lain, kalimat itu masih belum ada. Dan selama kalimat itu tidak ada, akan selalu ada anak yang berjalan sendirian ke gerbang sekolah sambil menahan tangis yang tidak boleh terlihat.
Kebijakan yang baik seharusnya tidak hanya merayakan mereka yang beruntung punya seseorang untuk menggandeng tangannya.
Kebijakan yang baik juga harus menoleh ke belakang, mencari anak yang berjalan sendirian, dan memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang merasa dilupakan hanya karena kehilangan yang bukan salah mereka.
Karena pada akhirnya, yang paling menyentuh dari hari pertama sekolah bukanlah seragam baru atau foto di depan gerbang.
Yang paling menyentuh adalah memastikan setiap anak, siapa pun dia, tahu bahwa ada yang peduli ia sampai dengan selamat dan tidak sendirian menanggung apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama.
Artikel ini adalah opini reflektif tentang desain kebijakan publik, disusun berdasarkan pemberitaan resmi mengenai Gerakan Ayah Mengantar Anak di berbagai daerah. Tokoh anak dalam narasi bersifat ilustratif, mewakili pengalaman umum anak yatim/piatu di Indonesia.






