Ironi di Balik Jargon “Aceh Sejahtera”: Ketika Bocah 11 Tahun Harus Menggantikan Peran Negara

- Penulis

Senin, 1 Juni 2026 - 21:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ACEH TIMUR– Ruang rapat pemerintahan mungkin masih wangi parfum mewah, dan baliho-baliho politik menjelang pilkada mungkin masih gagah memamerkan senyum penuh janji tentang “kesejahteraan rakyat”. Namun, jika ingin melihat wajah asli dari efektivitas program perlindungan sosial di Aceh Timur, datanglah ke Desa Matang Pineung, Kecamatan Darul Aman.

Di sana, kita tidak akan menemukan kemewahan anggaran daerah. Kita justru akan bertemu dengan Muhammad Rafatan, seorang bocah yatim berusia 11 tahun yang dipaksa pensiun dini dari bangku sekolah demi menjadi tulang punggung keluarga.

Sejak ditinggal wafat sang ayah pada tahun 2020 tepat saat ibunya bertaruh nyawa melahirkan adik bungsunya Rafatan praktis kehilangan hak-haknya sebagai anak. Ketika anak-anak pejabat atau masyarakat kelas atas sibuk memikirkan gawai terbaru atau ekstrakurikuler apa yang ingin mereka ikuti, Rafatan dan kakaknya harus membuang urat malu, mengetuk pintu dari satu warung ke warung lain demi menyambung nyawa dua kakak dan dua adiknya yang masih balita.

Sekolah Jadi Barang Mewah, Mengaji Jadi Benteng Terakhir

Sistem pendidikan yang katanya “gratis dan dijamin negara” tampaknya enggan mampir ke rumah Rafatan. Haknya untuk menuntut ilmu telah dirampas oleh kemiskinan yang gagal diintervensi oleh dinas terkait.

“Sekarang saya tidak sekolah lagi, cuma mengaji pada malam hari di balai pengajian dekat rumah,” ujar Rafatan dengan polosnya. Sebuah tamparan keras bagi dinas pendidikan setempat yang mungkin sedang sibuk menyusun laporan keberhasilan program di atas kertas.

Beruntung, balai pengajian lokal masih membuka pintunya secara gratis pada malam hari. Setidaknya, ketika moralitas sistem birokrasi sedang tidur pulas, balai pengajian tetap hadir memberikan sedikit cahaya moral bagi anak yang dilupakan oleh negaranya sendiri.

Ibu Sakit, Negara “Sakit” Apa?

Penderitaan Rafatan tidak berhenti pada perut yang lapar dan putus sekolah. Di rumahnya, ia harus menyaksikan ibunya terbaring sakit tanpa kepastian jaminan kesehatan yang layak. Lengkap sudah penderitaan keluarga ini: Yatim, miskin, putus sekolah, dan didera penyakit.

Sungguh sebuah prestasi yang memuaskan bagi para pemangku kebijakan, yang mungkin saat ini sedang sibuk menyusun anggaran studi banding ke luar daerah atau mempercantik fasilitas kantor mereka. Kisah Rafatan adalah bukti sahih betapa “lumpuhnya” fungsi pengawasan sosial dan kepekaan pemerintah daerah terhadap warga yang berada di bawah garis kemiskinan ekstrem.

Menanti Pemerintah Bangun dari Tidur Nyenyak

Kisah pilu Muhammad Rafatan bukan sekadar drama air mata untuk memancing rasa iba, melainkan sebuah gugatan terbuka. Akses pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial yang tertulis rapi di dalam undang-undang terbukti hanya menjadi hiasan lembaran negara yang tidak punya taji di dunia nyata.

Sampai kapan pemerintah daerah, lembaga sosial, dan dinas terkait membiarkan anak-anak seperti Rafatan menanggung beban yang seharusnya dipikul oleh negara? Ataukah kita harus menunggu hingga kasus ini viral di media sosial nasional terlebih dahulu agar para pejabat berseragam rapi itu berbondong-bondong datang membawa kamera, sembako, dan janji-janji manis yang terlambat?

Rakyat tidak butuh retorika pembangunan jika untuk makan esok hari saja, seorang bocah 11 tahun harus mengemis kepedulian dari pemilik warung kopi.

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel pelitanasional.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Pena Tak Lagi Menulis dengan Nurani
Berharap Makmur: Asa Aceh di Bahu Presiden Prabowo dan Menyisir Seramoe Mekkah
Gara-Gara Judol, Nyawa Jadi Taruhan
Opini Redaksi Investasi Rp21 Triliun di Aceh: Momentum atau Ulang Sejarah Kelam?
Sekolah Rakyat, Program Bercitra Rasa Reformasi
Aceh Selatan dan Warisan Bom Waktu untuk Bupati Baru
Whoosh, Dari Rel ke Jerat Hutang
Politik dan Tamu Tak Diundang
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 21:14 WIB

Ironi di Balik Jargon “Aceh Sejahtera”: Ketika Bocah 11 Tahun Harus Menggantikan Peran Negara

Selasa, 11 November 2025 - 12:38 WIB

Saat Pena Tak Lagi Menulis dengan Nurani

Rabu, 22 Oktober 2025 - 23:48 WIB

Berharap Makmur: Asa Aceh di Bahu Presiden Prabowo dan Menyisir Seramoe Mekkah

Jumat, 5 September 2025 - 17:12 WIB

Gara-Gara Judol, Nyawa Jadi Taruhan

Kamis, 28 Agustus 2025 - 01:00 WIB

Opini Redaksi Investasi Rp21 Triliun di Aceh: Momentum atau Ulang Sejarah Kelam?

Berita Terbaru

Pendidikan

Ziarah atau Pameran Ketika Kuburan Jadi Studio Foto

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:16 WIB