Peringati Hari Damai Aceh ke-21, Sultan Malik Samudera Pasai Serukan Adat Jadi Penjaga Perdamaian

- Penulis

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 21:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banda Aceh — Masyarakat Aceh memperingati Hari Damai Aceh ke-21 pada Sabtu (15/8/2026), menandai 21 tahun perjalanan damai pascapenandatanganan MoU Helsinki. Dalam peringatan yang digelar atas undangan Gubernur Aceh ini, Paduka Yang Mulia (PYM) Sultan Malik Samudera Pasai As Syarif Teuku Haji Badruddin Syah ZFA hadir didampingi Mentroe Besar Pasai, Dr. Harry TA Jalil.

Kehadiran Sultan dalam acara tersebut dinilai menjadi simbol kuat persatuan sekaligus eksistensi adat Aceh dalam menjaga perdamaian di tanah rencong.

Damai Bukan Hadiah, tapi Hasil Perjuangan

Dalam sambutannya, Sultan Malik Samudera Pasai mengajak seluruh masyarakat Aceh menjadikan semangat MoU Helsinki sebagai landasan membangun Aceh yang bermartabat, adil, dan penuh harapan.

“Damai ini bukan hadiah. Damai ini hasil perjuangan panjang. Tugas kita sekarang adalah mengisinya dengan kerja, gotong royong, dan menjaga adat. Selama adat Aceh berdiri tegak, maka Aceh akan tetap damai,” tegasnya.

Sultan mengingatkan bahwa perjalanan panjang Aceh menuju damai tidak lepas dari berbagai ujian berat, mulai dari konflik berkepanjangan hingga bencana tsunami 26 Desember 2004 yang justru menjadi salah satu titik penting lahirnya perdamaian. Kini, semangat persatuan itu kembali diuji menyusul bencana alam yang melanda Aceh pada 26 November 2025.

Karena itu, ia menegaskan peringatan damai tidak boleh berhenti sebatas seremonial, melainkan harus diwujudkan lewat kerja nyata, pemulihan ekonomi, dan kebersamaan masyarakat.

Senada dengan itu, Mentroe Besar Pasai Dr. Harry TA Jalil menekankan pentingnya menjaga suasana damai demi mempercepat proses pemulihan Aceh pascabencana. Ia turut menyinggung insiden kerusuhan di Masjid Raya Baiturrahman yang menurutnya tidak pantas terjadi di tempat ibadah, dari sudut pandang mana pun.

“Aceh hari ini harus tetap menjaga perdamaian demi mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi,” ujar Harry.

Kesultanan dan Pemerintah Aceh Didorong Berjalan Beriringan

Sultan Malik Samudera Pasai juga menegaskan dukungan penuh lembaga Kesultanan terhadap langkah Pemerintah Aceh dalam mempercepat rehabilitasi dan pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana. Menurutnya, pemerintah dan lembaga Kesultanan memiliki peran yang saling melengkapi: pemerintah menjalankan kebijakan dan program pembangunan, sementara Kesultanan berperan sebagai kekuatan sosial yang menjaga persatuan masyarakat.

“Pemerintah hadir untuk rakyat dan Kesultanan hadir mengawal. Jika keduanya jalan bersama, tidak ada persoalan yang tidak bisa kita selesaikan,” katanya.

Kolaborasi antara pemerintah, lembaga Kesultanan, dan masyarakat, lanjutnya, menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas sekaligus mempercepat pembangunan di berbagai daerah di Aceh.

Pesan untuk Generasi Muda

Kepada generasi muda Pasai, Sultan berpesan agar tidak melupakan sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan Indatu Samudera Pasai. Ia mengingatkan bahwa perdamaian yang kini dinikmati adalah amanah yang harus dijaga dan diteruskan.

Sultan juga mengajak generasi muda memandang Aceh bukan semata sebagai wilayah dengan sejarah panjang konflik dan bencana, melainkan sebagai daerah yang memiliki potensi besar untuk bangkit dan menjadi kekuatan ekonomi di kawasan.

Momentum Aceh Bangkit

Menutup pernyataannya, Sultan menyebut Aceh memiliki modal sejarah, sumber daya alam, budaya, serta posisi geografis yang strategis, sehingga momentum perdamaian ini harus menjadi titik balik menuju kemajuan.

“Aceh adalah negeri yang tangguh. Dari perjalanan sejarah perlawanan, Aceh telah melahirkan tokoh-tokoh pembaharu dan mampu melewati konflik serta bencana,” ujarnya.

Ia berharap 21 tahun perdamaian ini menjadi fondasi bagi Aceh yang lebih maju dan mandiri. “Inilah titik baliknya. Aceh harus menjadi pemimpin perdagangan di kawasan Selat Malaka. Kemajuan Aceh harus dibuktikan melalui diplomasi dagang, penguasaan ilmu pengetahuan, dan penguatan nilai-nilai Islam,” pungkasnya.

Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 ini pada akhirnya bukan sekadar mengenang berakhirnya konflik, melainkan pengingat bagi seluruh masyarakat Aceh bahwa perdamaian harus terus dirawat melalui adat, persatuan, dan kerja nyata demi masa depan Aceh.

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel pelitanasional.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Doa Bersama Peringati 21 Tahun Damai Aceh, Bupati Jangan Lupakan Luka Masa Konflik
DPP Tunas Prabowo 08 Tegaskan Dukungan terhadap Pemerintahan Prabowo-Gibran, Kawal 8 Program Asta Cita
Jaksa Tuntut Dua Terdakwa Kasus Penganiayaan Dek Pan, Minta Segera Ditahan
Pemkab Aceh Utara Salurkan Bantuan Tahap III Rp11,2 Miliar dari Kemensos untuk Korban Banjir Bandang
Gempa Bumi Magnitudo 5,1 Guncang Wilayah Langsa, Aceh
Khitan Massal Gratis YBM PLN dan Yakesma Aceh Bantu Puluhan Anak di Aceh Utara
Bupati Aceh Utara dan Kemensos RI Salurkan Santunan Rp2,48 Miliar bagi 496 Korban Luka Akibat Banjir
Jaga Kebugaran di Tengah Kesibukan, Bupati Aceh Utara Ayah Wa Berolahraga Bersama Ketua DPW Partai Aceh
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 21:43 WIB

Peringati Hari Damai Aceh ke-21, Sultan Malik Samudera Pasai Serukan Adat Jadi Penjaga Perdamaian

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:25 WIB

Doa Bersama Peringati 21 Tahun Damai Aceh, Bupati Jangan Lupakan Luka Masa Konflik

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:57 WIB

DPP Tunas Prabowo 08 Tegaskan Dukungan terhadap Pemerintahan Prabowo-Gibran, Kawal 8 Program Asta Cita

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:50 WIB

Jaksa Tuntut Dua Terdakwa Kasus Penganiayaan Dek Pan, Minta Segera Ditahan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 18:45 WIB

Pemkab Aceh Utara Salurkan Bantuan Tahap III Rp11,2 Miliar dari Kemensos untuk Korban Banjir Bandang

Berita Terbaru