Banda Aceh — Masyarakat Aceh memperingati Hari Damai Aceh ke-21 pada Sabtu (15/8/2026), menandai 21 tahun perjalanan damai pascapenandatanganan MoU Helsinki. Dalam peringatan yang digelar atas undangan Gubernur Aceh ini, Paduka Yang Mulia (PYM) Sultan Malik Samudera Pasai As Syarif Teuku Haji Badruddin Syah ZFA hadir didampingi Mentroe Besar Pasai, Dr. Harry TA Jalil.
Kehadiran Sultan dalam acara tersebut dinilai menjadi simbol kuat persatuan sekaligus eksistensi adat Aceh dalam menjaga perdamaian di tanah rencong.
Damai Bukan Hadiah, tapi Hasil Perjuangan
Dalam sambutannya, Sultan Malik Samudera Pasai mengajak seluruh masyarakat Aceh menjadikan semangat MoU Helsinki sebagai landasan membangun Aceh yang bermartabat, adil, dan penuh harapan.
“Damai ini bukan hadiah. Damai ini hasil perjuangan panjang. Tugas kita sekarang adalah mengisinya dengan kerja, gotong royong, dan menjaga adat. Selama adat Aceh berdiri tegak, maka Aceh akan tetap damai,” tegasnya.
Sultan mengingatkan bahwa perjalanan panjang Aceh menuju damai tidak lepas dari berbagai ujian berat, mulai dari konflik berkepanjangan hingga bencana tsunami 26 Desember 2004 yang justru menjadi salah satu titik penting lahirnya perdamaian. Kini, semangat persatuan itu kembali diuji menyusul bencana alam yang melanda Aceh pada 26 November 2025.
Karena itu, ia menegaskan peringatan damai tidak boleh berhenti sebatas seremonial, melainkan harus diwujudkan lewat kerja nyata, pemulihan ekonomi, dan kebersamaan masyarakat.
Senada dengan itu, Mentroe Besar Pasai Dr. Harry TA Jalil menekankan pentingnya menjaga suasana damai demi mempercepat proses pemulihan Aceh pascabencana. Ia turut menyinggung insiden kerusuhan di Masjid Raya Baiturrahman yang menurutnya tidak pantas terjadi di tempat ibadah, dari sudut pandang mana pun.
“Aceh hari ini harus tetap menjaga perdamaian demi mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi,” ujar Harry.
Kesultanan dan Pemerintah Aceh Didorong Berjalan Beriringan
Sultan Malik Samudera Pasai juga menegaskan dukungan penuh lembaga Kesultanan terhadap langkah Pemerintah Aceh dalam mempercepat rehabilitasi dan pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana. Menurutnya, pemerintah dan lembaga Kesultanan memiliki peran yang saling melengkapi: pemerintah menjalankan kebijakan dan program pembangunan, sementara Kesultanan berperan sebagai kekuatan sosial yang menjaga persatuan masyarakat.
“Pemerintah hadir untuk rakyat dan Kesultanan hadir mengawal. Jika keduanya jalan bersama, tidak ada persoalan yang tidak bisa kita selesaikan,” katanya.
Kolaborasi antara pemerintah, lembaga Kesultanan, dan masyarakat, lanjutnya, menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas sekaligus mempercepat pembangunan di berbagai daerah di Aceh.
Pesan untuk Generasi Muda
Kepada generasi muda Pasai, Sultan berpesan agar tidak melupakan sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan Indatu Samudera Pasai. Ia mengingatkan bahwa perdamaian yang kini dinikmati adalah amanah yang harus dijaga dan diteruskan.
Sultan juga mengajak generasi muda memandang Aceh bukan semata sebagai wilayah dengan sejarah panjang konflik dan bencana, melainkan sebagai daerah yang memiliki potensi besar untuk bangkit dan menjadi kekuatan ekonomi di kawasan.
Momentum Aceh Bangkit
Menutup pernyataannya, Sultan menyebut Aceh memiliki modal sejarah, sumber daya alam, budaya, serta posisi geografis yang strategis, sehingga momentum perdamaian ini harus menjadi titik balik menuju kemajuan.
“Aceh adalah negeri yang tangguh. Dari perjalanan sejarah perlawanan, Aceh telah melahirkan tokoh-tokoh pembaharu dan mampu melewati konflik serta bencana,” ujarnya.
Ia berharap 21 tahun perdamaian ini menjadi fondasi bagi Aceh yang lebih maju dan mandiri. “Inilah titik baliknya. Aceh harus menjadi pemimpin perdagangan di kawasan Selat Malaka. Kemajuan Aceh harus dibuktikan melalui diplomasi dagang, penguasaan ilmu pengetahuan, dan penguatan nilai-nilai Islam,” pungkasnya.
Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 ini pada akhirnya bukan sekadar mengenang berakhirnya konflik, melainkan pengingat bagi seluruh masyarakat Aceh bahwa perdamaian harus terus dirawat melalui adat, persatuan, dan kerja nyata demi masa depan Aceh.






