Ketika Meja Sekolah Tak Tersisa, Punggung Jurnalis Jadi Alas Menulis Plt Sekda

- Penulis

Selasa, 6 Januari 2026 - 16:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ACEH UTARA | PELITA NASIONAL— Banjir besar yang melanda Aceh Utara sejak 26 November 2025 tidak hanya merendam rumah dan jalan, tetapi juga menghanyutkan ruang-ruang tempat anak-anak menaruh harapan. Di Kecamatan Langkahan, salah satu di SMP Negeri 1 Langkahan dalam ruang kelas penuhi lumpur, puing bangku, dan meja-meja yang tak lagi bisa menopang buku pelajaran.

Sekolah itu terendam air hingga setinggi sekitar empat meter. Ketika air surut, yang tersisa bukan hanya lumpur, tetapi kesedihan yang menempel di setiap sudut ruang kelas. Bangku-bangku kayu mengembang dan patah, meja-meja belajar roboh dan tak lagi layak digunakan. Ruang kelas yang dulu riuh oleh suara anak-anak kini tidak ada lagi terdengar.

Pada Selasa, 6 Januari 2026, Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Utara, Jamaluddin, S.Sos., M.Pd, datang ke sekolah itu. Ia memimpin gotong royong massal bersama seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Aceh Utara. Lumpur dibersihkan, perabot diangkat, namun luka yang ditinggalkan paska musibah banjir terasa jauh lebih berat Seperti Tsunami Kedua.

Di rumah sekolah yang porak-poranda, Jamaluddin mengambil selembar kertas. Ia hendak menulis catatan lapangan. Namun ia terdiam. Tak ada meja untuk bersandar, tak ada bangku untuk dijadikan alas. Semua yang biasa menopang aktivitas belajar telah hancur.

Dalam genting dadurat, seorang jurnalis yang sedang meliput secara spontan membalikkan badan. Ia merunduk, membelakangi Plt Sekda, menjadikan punggungnya sebagai alas menulis. Di atas punggung manusia, bukan di atas meja sekolah, sebuah catatan dituliskan sebuah momen sederhana yang menyimpan duka mendalam.

Peristiwa itu bukan sekadar kebetulan. Ia adalah cermin kondisi pendidikan pascabanjir di Aceh Utara, ketika ruang belajar hilang hancur dan keterbatasan menjadi pemandangan. Sebuah simbol bahwa di tengah keterpurukan, pendidikan masih berusaha berdiri, meski tanpa meja dan bangku.

Di lokasi yang sama, Jamaluddin mengoordinasikan gotong royong massal. ASN Aceh Utara bekerja bersama membersihkan lumpur, mengangkat sisa bangku, dan berusaha mengembalikan sedikit harapan di ruang-ruang kelas yang rusak hancur diterjang banjir.

Berdasarkan data terbaru Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, dari 670 sekolah yang terdampak banjir, sebanyak 615 sekolah telah kembali menjalankan proses belajar mengajar. Sebanyak 345 sekolah dinyatakan aman dan belajar normal. Namun 242 sekolah terpaksa melaksanakan pembelajaran dengan sistem lesehan karena meja dan kursi rusak.

Tiga sekolah SD Negeri 6 Tanah Jambo Aye, SD Negeri 9 Tanah Jambo Aye, dan SD Negeri 4 harus menggunakan tenda darurat. Meski demikian, proses belajar tetap berjalan dengan tingkat kehadiran siswa sekitar 60 hingga 70 persen. Sementara itu, 20 sekolah hanya dapat menggunakan sebagian ruang kelas, dan lima sekolah menerapkan metode guru kunjung.

Dari sisi kurikulum, Jamaluddin menjelaskan bahwa 345 sekolah masih menggunakan kurikulum reguler, sedangkan 270 sekolah lainnya menerapkan kurikulum darurat. Pemerintah juga telah mengusulkan bantuan school kit sebanyak 73.123 paket ke kementerian terkait, namun hingga kini baru sekitar 900 paket yang tiba di Aceh Utara.

Namun di balik angka-angka itu, ada anak-anak yang duduk di dalam lantai yang tidak rata,  menulis di atas lutut mereka sendiri, dan belajar di ruang tanpa bangku. Ada mimpi-mimpi kecil yang harus bersabar lebih lama dari yang seharusnya setelah pakai, sepatu mereka hilang bangku sekolah juga ikut di hacurkan bajir.

Ketika meja sekolah tak lagi tersisa, punggung seorang jurnalis hari itu menjadi alas menulis. Bukan untuk menunjukkan keterbatasan seorang pejabat, melainkan untuk mengingatkan kita semua bahwa,

“Hak atas pendidikan yang layak bukanlah belas kasih negara, melainkan perintah konstitusi. Pasal 31 UUD 1945 menegaskan bahwa dalam kondisi apa pun, termasuk bencana, negara tetap berkewajiban menjamin terselenggaranya pendidikan bagi setiap anak bangsa.” dan setiap bangku yang hilang adalah satu harapan yang harus segera kita kembalikan.

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel pelitanasional.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jejak Lumpur Belum Hilang, Tim Medis Puskesmas Syamtalira Bayu Hadir Bawa Harapan Pasca-Banjir
Pulihkan Semangat Seniman Pasca-Banjir Besar, Komunitas Solo Raya Salurkan Bantuan untuk Maestro Rapai di Aceh Utara
Wakil Gubernur Aceh Faddlullah Tegaskan Penanganan Banjir Aceh Utara dan Aceh Tamiang, Penyesuaian Bantuan Rumah Rusak
Menko Polkam RI dan Pejabat Tinggi Kunjungi Kecamatan Lapang, Gampong Kula Cangkoy Pasca-Banjir Besar
2 Unit Tenda dan 21 Paket Sembako Disalurkan untuk Korban Banjir Gampong Ampeh
Darurat Banjir Dicabut, Pemkab Aceh Utara Masuk Tahap Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Warga Cemas Banjir Terulang, Tanggul Jebol Krueng Keureuto Mulai Diperbaiki
Mendagri Lepas Praja IPDN ke Daerah Bencana, Aceh Termasuk Tujuan Penugasan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 8 Januari 2026 - 22:47 WIB

Jejak Lumpur Belum Hilang, Tim Medis Puskesmas Syamtalira Bayu Hadir Bawa Harapan Pasca-Banjir

Kamis, 8 Januari 2026 - 21:34 WIB

Pulihkan Semangat Seniman Pasca-Banjir Besar, Komunitas Solo Raya Salurkan Bantuan untuk Maestro Rapai di Aceh Utara

Rabu, 7 Januari 2026 - 12:08 WIB

Wakil Gubernur Aceh Faddlullah Tegaskan Penanganan Banjir Aceh Utara dan Aceh Tamiang, Penyesuaian Bantuan Rumah Rusak

Rabu, 7 Januari 2026 - 11:52 WIB

Menko Polkam RI dan Pejabat Tinggi Kunjungi Kecamatan Lapang, Gampong Kula Cangkoy Pasca-Banjir Besar

Selasa, 6 Januari 2026 - 16:18 WIB

Ketika Meja Sekolah Tak Tersisa, Punggung Jurnalis Jadi Alas Menulis Plt Sekda

Berita Terbaru