Sungguh luar biasa perkembangan teknologi di era ini. Bahkan orang yang sudah meninggal pun kini bisa ikut menikmati kecanggihan media sosial meski tentu saja, bukan untuk kepentingan mereka yang di dalam tanah.
Dulu, ziarah kubur adalah momen sunyi. Hening. Pribadi. Seseorang datang, duduk, membaca doa dalam diam, lalu pulang dengan hati yang terenyuh mengingat betapa singkatnya hidup. Tidak ada saksi. Tidak ada penonton. Hanya dia, batu nisan, dan Tuhan.
Tapi rupanya, format lama itu sudah ketinggalan zaman.
Kini prosesinya lebih modern: datang ke kuburan, sedikit membungkuk pura-pura khusyuk, kamera disiapkan, ekspresi diatur antara sedih-tapi-fotogenik, jepret, filter dipilih yang paling dramatis, lalu caption ditulis dengan penuh penghayatan “Kangen Ayah, semoga tenang di sana” dan dalam hitungan detik, kiriman doa itu sudah viral di empat platform sekaligus.
Empat platform. Seolah satu platform tidak cukup untuk menampung keikhlasan seseorang.
Yang menarik, doa yang seharusnya cukup didengar Allah, rupanya perlu juga didengar oleh 847 followers Instagram, 1.200 teman Facebook, ratusan kontak WhatsApp, dan para pengguna TikTok yang sedang scroll sambil makan mie instan.
Kita patut bertanya dengan serius: sebenarnya siapa yang sedang didoakan di sini? Sang almarhum yang tenang di alam baka, atau ego sang peziarah yang gelisah ingin diakui, Karena kalau niatnya benar-benar untuk si mayit, cukuplah Allah yang tahu.
Allah tidak punya akun Instagram. Dia tidak butuh tag location untuk tahu bahwa kamu ada di pemakaman. Ironisnya, agama yang menjadi landasan ziarah itu sendiri sangat tegas soal riya’, yakni beribadah dengan niat agar dilihat manusia. Bukan sekadar makruh, bukan sekadar tidak dianjurkan, tapi disebut sebagai syirik kecil.
Artinya, pahala yang katanya ingin dikirimkan ke almarhum itu, bisa jadi justru menguap sebelum sampai menghilang di antara notifikasi like dan kolom komentar bertuliskan “Semoga husnul khotimah kak”.
Maka jadilah sebuah paradoks yang sempurna pergi ke kuburan untuk mengirim pahala, pulang membawa dosa.
Yang lebih menggelikan lagi adalah bagaimana momen ini dikemas. Ada yang memakai baju lebaran terbaik ke kuburan, seolah almarhum perlu tahu bahwa anaknya tampil on-point hari ini. Ada yang selfie dengan senyum lebar lupa bahwa latar belakangnya adalah batu nisan.
Ada yang membuat konten TikTok lengkap dengan transisi dan lagu sendu, menjadikan makam orang tua sebagai properti konten kreator.
Jika memang tujuannya menginspirasi orang lain untuk ziarah, masih bisa dipahami.
Tapi jujurlah pada diri sendiri apakah kamu akan tetap ziarah jika HP-mu mati dan tidak ada satupun orang yang akan tahu? Jawaban dari pertanyaan itulah yang membedakan antara ibadah dan pertunjukan.
Ziarah adalah pengingat kematian bukan pengingat bahwa kamu anak yang berbakti di mata netizen. Kuburan adalah tempat merendahkan diri, bukan tempat menaikkan engagement rate.
Almarhum tidak butuh views. Mereka butuh doa yang tulus, yang dipanjatkan diam-diam, tanpa penonton, tanpa tepuk tangan. Dan ketulusan, sejak kapan butuh penonton? Semoga kita semua dijauhkan dari ibadah yang lebih sibuk mengurus citra daripada mengurus hati.





