PELITA NASIONAL| BANDA ACEH— Masyarakat Aceh kembali disuguhi tontonan klasik yang tak pernah absen dari panggung pelayanan publik: pemadaman listrik. Melalui rilis resmi bertajuk “Info Kelistrikan PLN UID Aceh” bertanggal 23 Mei 2026, PT PLN (Persero) mengumumkan bahwa mereka sedang melakukan apa yang mereka sebut dengan istilah keren: “Manajemen Beban”.
Bagi masyarakat awam, istilah estetis tersebut punya arti yang jauh lebih sederhana dan menyakitkan: Mati Lampu.
Kambing Hitam Bernama “Cuaca Ekstrem”
Kali ini, PLN menunjuk hidung gangguan transmisi 275 kV Muara Bungo – Sungai Rumbai akibat “cuaca ekstrem” di Sumatra sebagai biang keroknya. Hebatnya, gangguan yang terjadi entah berapa ratus kilometer di luar Aceh, dampaknya sukses membuat warga Serambi Mekkah kembali ke zaman batu secara berkala.
Masyarakat pun mulai bertanya-tanya, apakah sistem kelistrikan kita ini terbuat dari kerupuk yang langsung lembek begitu tersengat cuaca ekstrem? Komitmen menuju digitalisasi dan modernisasi seolah menguap setiap kali awan mendung datang.
“Langkah Terukur” yang Mengukur Kesabaran Warga
Dalam rilisnya, Lukman Hakim selaku Manager Komunikasi & TJSL PLN UID Aceh menyebutkan bahwa langkah pemadaman ini dilakukan secara “terukur” untuk menjaga keandalan sistem.
Satu-satunya hal yang benar-benar terukur di sini tampaknya adalah tingkat kekesalan warga dan penurunan omzet para pelaku UMKM yang ketergantungan pada arus listrik.
Menghimbau masyarakat untuk “tetap tenang” di tengah cuaca panas tanpa kipas angin atau AC, sambil menyaksikan daya baterai ponsel perlahan sekarat, adalah bentuk humor sarkasme terbaik yang didelegasikan oleh korporasi pelat merah ini.
Pantau Lewat Aplikasi Saat Ponsel Mati?
Di akhir pengumuman, PLN dengan penuh percaya diri meminta masyarakat memantau perkembangan penanganan gangguan melalui aplikasi PLN Mobile. Sebuah saran yang sangat visioner, mengingat untuk membuka aplikasi tersebut dibutuhkan jaringan internet yang stabil—sesuatu yang biasanya ikut mokat alias hilang sinyal begitu listrik dipadamkan.
Masyarakat tidak butuh istilah-istilah teknis kosmetik seperti manajemen beban, pemulihan bertahap, atau keandalan sistem. Yang masyarakat butuhkan sangat sederhana: Listrik hidup, tagihan masuk akal, dan janji pelayanan yang ditepati.
Sampai sistem kelistrikan Sumatra benar-benar “pulih secara bertahap”, warga Aceh tampaknya harus kembali menyiapkan lilin, menyalakan genset bagi yang mampu, dan tentu saja, melapangkan dada untuk menerima kenyataan bahwa dalam urusan mati lampu, konsumenlah yang selalu menanggung beban yang sebenarnya. (Mul)





