ACEH UTARA — Kamis, 5 Februari 2026, Lapangan Upacara Kantor Bupati Aceh Utara di Landeng menjadi saksi bisu sebuah peristiwa yang menggetarkan jiwa. Di bawah langit Landeng yang sakral, sebanyak 8.094 tenaga bakti sukarela dan honorer berkumpul dengan satu harapan yang telah lama mereka gantungkan di tiang doa.
Hari itu, Haji Ismail A. Jalil, atau yang akrab disapa Ayahwa, resmi melantik mereka menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu. Ini adalah pelantikan terbesar dalam sejarah Aceh, bahkan Indonesia.
Jejak Luka dan Janji Sang Pejuang
Bagi rakyat Aceh Utara, Ayahwa bukan sekadar pejabat. Ia adalah sosok yang tubuhnya pernah akrab dengan bau tanah dan desing peluru. Sebagai mantan pejuang GAM, Ayahwa adalah pria yang dulu rela menyerahkan nyawanya di garis depan demi membela rakyat. Semangat pengorbanan itu kini ia bawa ke dalam sistem pemerintahan.
Saat kampanye dulu, ia pernah bersumpah di hadapan ribuan honorer yang hidup dalam ketidakpastian:
“Insya saya akan memperjuangkan nasib kalian agar memiliki status yang jelas. Saya akan bolak-balik ke Jakarta demi kalian.”
Janji itu bukan sekadar kata-kata manis. Meski harus menembus dinginnya birokrasi di Jakarta, Ayahwa membuktikan bahwa kata-katanya adalah hutang yang harus dibayar lunas.
Martabat di Atas Segalanya
Ayahwa memahami betul bahwa saat ini kemampuan APBK Aceh Utara belum mampu menampung gaji mereka secara penuh. Namun, bagi Ayahwa, memberikan status hukum dan pengakuan negara adalah prioritas utama agar mereka tidak lagi merasa terasing di tanah sendiri.
“Mungkin hari ini negara baru bisa mengakui status kalian, meskipun anggaran kita masih sangat terbatas. Tapi janji saya, masalah gaji akan terus saya perjuangkan di tingkat pusat. Yang penting, kalian sekarang punya martabat,” tegas Ayahwa dengan suara yang berat menahan haru.
Beliau pun menitipkan pesan yang merasuk ke relung hati para abdi negara tersebut: “Kita harus terus berdoa agar jalan rezeki dibuka, bersyukur atas apa yang kita terima hari ini, dan bersabar dalam pengabdian. Jangan pernah lelah berbuat baik untuk rakyat.”
Panggung Kemanusiaan di Lapangan Landeng
Suasana di Lapangan Landeng semakin menyayat hati ketika ada beberapa penyandang disabilitas di atas kursi roda, dan menggunakan tongkat berusaha mendekat untuk mengabadikan momen. Tanpa ragu, Ayahwa sang mantan pejuang yang dikenal tangguh menunjukkan sisi lembutnya. Ia berlari kecil menghampiri, lalu menunduk dan duduk bersimpuh agar sejajar dengan kursi roda tersebut.

“Di sini kita semua setara,” ucapnya singkat namun dalam.
Tangis pecah di tengah lapangan. Ribuan pasang mata menyaksikan betapa ketulusan seorang pemimpin mampu meruntuhkan sekat jabatan. Di sana, tidak ada bupati dan bawahan; yang ada hanyalah seorang “Ayah” yang sedang mendekap anak-anaknya yang telah lama menunggu keadilan.
Hari itu, Lapangan Upacara Landeng bukan hanya tempat pelantikan, tapi menjadi saksi sejarah bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang menepati janji dan memperjuangkan mereka yang paling lemah. Ayahwa telah pulang dari “medan perang” birokrasi, membawa kado terindah bagi 8.094 keluarga: sebuah pengakuan dan harapan baru Bagi masyarakat Aceh Utara. (Mul)






