Aceh Perkusi 2025: Menghidupkan Kembali Sejarah Rapai Pase di Tanah Samudera

- Penulis

Sabtu, 23 Agustus 2025 - 15:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PELITANASIONAL | ACEH UTARA – Gampong Beringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, menjadi saksi kemeriahan Aceh Perkusi 2025, sebuah perhelatan budaya yang menghadirkan kembali denyut sejarah dan identitas Aceh melalui lantunan rapai, rukon, dan daboh.

Acara yang digelar di Monumen Samudera Pasai ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah ruang pembelajaran bagi generasi muda, terutama pelajar, SMP, SMA, agar mengenal dan mencintai kembali seni tradisi Aceh.

Dalam sambutannya, Syeh Fauzan Abdullah, maestro rapai asal Samudera Pasai, menegaskan pentingnya menjaga warisan leluhur.

“Rapai bukan sekadar alat musik, tapi simbol komunikasi, pemersatu, bahkan pernah menjadi suara perjuangan bangsa Aceh. Mari kita minta perlindungan Allah, semoga generasi kita sehat pikiran, kuat iman, dan terus menjaga budaya ini sampai akhir zaman,” ungkapnya penuh haru.

Sejarah Panjang Rapai Pase

Rapai diyakini masuk ke Aceh sejak masa kuno, dibawa oleh ulama-ulama dari Arab, termasuk jejak spiritual Syeh Abdul Qadir Jailani. Nama rapai sendiri merujuk pada tokoh pembawa ajaran tarekat Syeh Rifa’i, yang sempat berhubungan erat dengan kerajaan Samudera Pasai.

Sejak masa Raja-raja Samudera Pasai, rapai bukan hanya alat musik, tapi juga sarana dakwah, media komunikasi, bahkan perekat sosial. Dalam beberapa kisah, rapai kerap dibawa bersama mushaf Al-Qur’an, sebagai simbol penyebaran Islam di tanah Aceh.

Harapan untuk Generasi Muda

Panitia Aceh Perkusi 2025 menekankan bahwa kegiatan ini adalah deklarasi kebudayaan: Aceh tidak akan berhenti melestarikan rapai. Pesan utama ditujukan kepada generasi muda agar tidak kehilangan identitas.

Nasaruddin ZA dan Petua Din, dua tokoh budaya Aceh yang turut tampil, menegaskan bahwa seni rapai harus terus diajarkan di sekolah-sekolah dan gampong.

“Anak-anak SMA hari ini harus tahu rapai, bukan hanya sekadar menonton, tapi memainkannya. Rapai adalah bagian dari jiwa orang Aceh,” tegas mereka.

Rapai, Dari Syair ke Doa

Dalam puncak acara, syair-syair rapai menggema di monumen bersejarah itu, melantunkan zikir dan takbir. Rapai kembali hidup bukan hanya sebagai seni, tetapi juga doa dan pengingat bahwa Aceh pernah menjadi pusat peradaban Islam di Asia Tenggara.

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel pelitanasional.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Korban Penusukan di Aceh Utara Pulih Setelah Dirawat Gratis oleh RSUD Cut Meutia
Wujud Kepedulian Nyata, RSUD Cut Meutia Tanggung Penuh Biaya Pengobatan Korban Penusukan
Peluang Emas! Sekolah Gratis Berbasis IT dan Tahfidz di Aceh Utara: Siap Kerja ke Luar Negeri!
Kejati Aceh Seret Tersangka Baru dalam Skandal Korupsi Beasiswa Rp14 Miliar
Ayahwa Beri Lampu Hijau, Pelita Nasional Tagih Komitmen Digitalisasi 95 Satker di Aceh Utara Stop Setoran Tunai!
Menuju Kemandirian Fisikal, Digitalisasi Seluruh Sektor PAD dan Legalisasi Usaha Rakyat Jadi Solusi Strategis Aceh Utara
Di Tengah Lumpur Pasca-Banjir, Hak Sehat Rakyat Justru “Dikebiri” Aturan Pusat
Bupati Aceh Utara Benar Pejuang Janji Masa Kompaye Kini Ditunaikan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 23:54 WIB

Korban Penusukan di Aceh Utara Pulih Setelah Dirawat Gratis oleh RSUD Cut Meutia

Jumat, 10 April 2026 - 16:03 WIB

Wujud Kepedulian Nyata, RSUD Cut Meutia Tanggung Penuh Biaya Pengobatan Korban Penusukan

Selasa, 7 April 2026 - 23:24 WIB

Kejati Aceh Seret Tersangka Baru dalam Skandal Korupsi Beasiswa Rp14 Miliar

Jumat, 3 April 2026 - 16:48 WIB

Ayahwa Beri Lampu Hijau, Pelita Nasional Tagih Komitmen Digitalisasi 95 Satker di Aceh Utara Stop Setoran Tunai!

Kamis, 2 April 2026 - 16:25 WIB

Menuju Kemandirian Fisikal, Digitalisasi Seluruh Sektor PAD dan Legalisasi Usaha Rakyat Jadi Solusi Strategis Aceh Utara

Berita Terbaru